ESWL

22/04/2009

Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy
(ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal.
ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia
kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan
penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi
pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

 

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari
operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama
untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan
berkali-kali.

ESWL merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan
pembedahan atau memasukkan alat kedalam tubuh pasien. Sesuai dengan
namanya, Extracorporeal berarti di luar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu (ginjal) dengan menggunakan gelombang kejut (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu
ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga
dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana
teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan,
B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan
dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara
natural bersama air seni

Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agar shock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device
yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu,
sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi
dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal
akibat salah tembak.

Sejarah lithotripter

Ide penggunakan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Jerman
tercatat sebagai negara yang mempelopori pengembangan ESWL. Pada
awalnya riset yang digulirkan hanya ingin mempelajari interaksi antara shock wave dengan biological tissue pada hewan.

Riset ini dilakukan antara tahun 1968 sampai 1971 di Jerman,
dilatarbelakangi oleh adanya insiden salah seorang pegawai perusahaan Dornier (saat ini perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan pembuat mesin lithotripter) secara tidak sengaja tersengat shock wave pada saat eksperimen.

Salah satu hasil dari riset ini adalah ditemukan bahwa shock wave mengakibatkan efek samping yang rendah pada otot, lemak, dan jaringan sel tubuh, dan bone tissue (jaringan tulang) tidak mengalami kerusakan saat dilalui oleh shock wave.

Hasil penelitian ini kemudian membawa lahirnya ide penggunaan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal dari luar tubuh. Pada tahun 1971, Haeusler dan Kiefer telah memulai eksperimen in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal dengan shock wave. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah Jerman secara resmi memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL.

Selanjutnya pada awal tahun 1980 pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan mesin Dornier Lithotripter HM1. Sejak saat itu eksperimen lanjutan dilakukan secara intensif dengan in-vivo (dilakukan di dalam tubuh) maupun in-vitro. Akhirnya mulai tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulic, piezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat “ledakan” di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakan lithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihatpada Gambar 2 .

Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter

Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya
memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi
dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed,
sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal
tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wave dari lithotripter
ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya,
dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh
(darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan
sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

ESWL di Indonesia

Saat ini penulis belum memiliki data pasti tentang berapa banyak
rumah sakit di Indonesia yang telah melayani prosedur ESWL. Mengingat
harga lithotripter yang cukup mahal mungkin hanya rumah sakit
besar saja yang telah memiliki alat ini. Mengenai biaya pengobatan
dengan ESWL sangat tergantung berapa kali tindakan ESWL yang diperlukan
sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal.

Di Amerika, rata-rata pasien menjalani 1.5 kali tindakan ESWL [2]
sampai benar-benar bebas dari batu ginjal. Namun jika merujuk pada
artikel kesehatan di Indosiar pada 14 Januari 2006 lalu (http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=48134)
yang menyatakan bahwa untuk sekali tindakan ESWL diperlukan biaya
sekitar 4,5 juta rupiah, maka dapat dikatakan bahwa terapi ini selain
menawarkan keamanan dan kenyamanan, juga menawarkan biaya pengobatan
yang relatif murah.

Oleh Sandro Mihradi

Daftar bacaan

1. JE Lingeman, in New developments in the management of urolithiasis, Igaku-Shoin, New York, 1996.
2. Andrew Street, Working Paper 29, Center for Health Program Evaluation, 1993.

Sandro Mihradi, mahasiswa program Doktor di Toyohashi University of Technology, Jepang. Email: sandro.m@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: